Sejarah Desa

Pada zaman dahulu Desa Bendowulung berupa hutan yang luas. Banyak pohon besar sehingga daerah ini terlihat gelap. Tidak ada seorang pun yang berani hidup kecuali hewan-hewan liar. Pada suatu hari banyak orang yang berdatangan kesana dengan tujuan yang sama, yaitu ingin membuka hutan tersebut. Apabila nanti suatu saat sudah terbuka, hutan itu akan ditinggali dan didirikan rumah-rumah yang kemudian dijadikan sebuah desa.

Orang – orang lalu dikumpulkan semua di suatu lahan di tengah hutan, dengan pelopori oleh orang yang dituakan bernama Mbah Aryo Gonggo. Meskipun fisik beliau sudah tua, tetapi terlihat masih sehat dan bugar. Mbah Aryo Gonggo juga memiliki seorang istri yang masih muda, perawakannya tinggi berkulit sawo matang.
Selanjutnya, orang – orang tersebut dibagi menjadi tiga kelompok : satu kelompok tinggal dibagian timur, satu kelompok tinggal dibagian selatan, dan satu kelompok lagi tinggal dibagian barat. Setelah diberi tempat tinggal sendiri – sendiri, mereka kemudian berangkat ke wilayahnya masing–masing. Mbah Aryo Gonggo berpesan kepada mereka apabila sudah selesai membuka hutan, semua harus berkumpul kembali.
Kelompok bagian timur yang dipimpin oleh Mbah Aryo Gonggo. Tidak membutuhkan waktu lama, kelompok ini sudah menemukan sumber mata air atau yang disebut mbelik. Sumber air itu airnya sangat jernih dan banyak ikannya (mina). Sumber air itu termasuk tempat yang angker. Siapa saja yang ingin mengambil ikan yang ada di sumber air itu, di kemudian hari pasti akan sakit. Pada akhirnya, mereka hanya bisa mandi dan mengambil air dan tidak berani sembarangan.
Dalam membersihkan hutan mereka memerlukan waktu yang cukup lama karena peralatan mereka sudah mulai banyak yang usang. Akhirnya, salah satu warga mendirikan tempat untuk membuat alat–alat dari besi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pertanian dan dapur yang biasa disebut pandhe besi. Berbagai peralatan yang dihasilkan antara lain sabit, cangkul, kapak, lencek, linggis, wangkil, parang, bodhing, pisau dan lain-lain. Berita ini sudah tersebar di kelompok lain sehingga banyak warga yang memesan peralatan-peralatan tersebut untuk melanjutkan membuka hutan. Disamping itu ada sebagian warga yang sudah memulai mendirikan rumah di wilayah yang sudah bersih dari semak belukar.
Di lokasi yang lain ada yang mengatakan bahwa dibagian utara ada sebuah sumber mata air (mbelik) yang sangat besar dipinggir jalan, karena begitu besarnya sumber air tersebut sehingga airnya meluap ke jalan atau yang disebut ubalan. Lalu Mbah Aryo Gonggo menyatakan kebenaran dari keberadaan mata air itu yang selanjutnya diberi nama mbelik ubalan.
Selanjutnya, Mbah Aryo Gonggo meneruskan membuka hutan ke arah barat. Sebelum Mbah Aryo Gonggo membuka hutan disana, beliau mencari lokasi untuk ditinggali bersama istrinya. Mbah Aryo Gonggo memilih mendirikan bangunan berupa pesangrahan yang terletak di dekat pohon bendo yang besar dan tinggi yang digunakan untuk tempat tinggal burung – burung.
Setelah selesai mendirikan tempat tinggal, Mbah Aryo Gonggo lalu memulai membuka hutan kembali. Belum lama membuka hutan beliau mengeluh jika badannya terasa sakit semua. Oleh istrinya, Mbah Aryo Gonggo dicarikan jamu dan obat-obatan tetapi tetapi tidak juga kunjung sembuh malah sakitnya semakin parah. Akhirnya Mbah Aryo Gonggo meninggal dunia dan dimakamkan di sekitar pesanggrahan tersebut. Sepeninggal Mbah Aryo Gonggo, maka istrinya menjadi janda (rondho). Meskipun Mbah Aryo Gonggo telah meninggal, istrinya tetap tinggal di pasanggrahan itu. Disamping pohon bendo tempat dimakamkannya Mbah Aryo Gonggo terdapat sumber mata air (mbelik) dan sumber mata air tersebut dinamakan mbelik gonggopati.
Setelah selesai memakamkan Mbah Aryo Gonggo orang–orang kembali bekerja lagi. Banyak warga yang terpukau dengan Janda Mbah Aryo Gonggo yang masih terlihat muda, cantik dan berkulit sawo matang, maka tidak heran tempat tersebut dijuluki padepokan rondho kuning.
Beda cerita dengan kelompok selatan, sebelum hutan tersebut dibuka tempat tersebut terlihat sangat gelap dan rimbun. Sehingga tempat tersebut digunakan untuk persembunyian para perampok dan pencuri. Setiap ada pencuri atau perampok dari desa lain dikejar pasti memasuki hutan tersebut karena sulit ditemukan. Setelah hutan tersebut selesai dibuka dan dibersihkan orang – orang berkata bahwa itu adalah tempat para perusuh atau disebut pangrusuh. Sehingga wilayah tersebut diberi nama Pangkru.
Selanjutnya orang-orang yang membuka hutan diwilayah barat tidak menemukan apa – apa, selain pohon yang bunganya berbau harum yaitu bunga kenanga atau disebut cempoko. Sehingga wilayah tersebut dinamakan Cepoko. Setelah selesai membersihkan hutan, para warga diwilayah tersebut mendirikan rumah untuk mereka tinggali.
Setelah semua wilayah telah selesai dibuka, dibersihkan serta didirikan tempat tinggal, orang – orang bertekat untuk berkumpul di tempat awal yang telah disepakati bersama Mbah Aryo Gonggo dulu. Disana orang – orang bercerita sendiri – sendiri riwayat ketika membuka hutan. Berbeda wilayah, berbeda pula cerita dan peristiwanya. Yang membuka hutan bagian timur menemukan mbelik gonggomino dan besalen/pandhe, bagian utara menemukan mbelik ubalan, bagian tengah menemukan mbelik gonggopati, pohon bendo wungu dan mbok rondho kuning, bagian barat menemukan pohon cempoko, dan bagian selatan menemukan tempat persembunyian para perusuh (pangrusuh) maka dinamakan pangkru.
Sambil mereka saling berbagi pengalaman dalam membuka hutan, orang-orang yang memulai pembicaraan tentang kapan dan siapa orang yang bisa memimpin wilayah ini. Mereka butuh sosok pengganti Mbah Aryo Gonggo untuk memimpin mereka semua. Saat itu belum ada keputusan karena tidak ada yang berani untuk menjadi kepala wilayah tersebut.
Setelah bulan hari dan waktu, ada seseorang yang berani mengelilingi dan mengajak berkumpul untuk musyawarah membuat desa. Setelah sampai pada hari yang ditentukan, orang – orang yang memerintah dan menerima perintah semua datang di tempat yang sudah disiapkan. Disana orang – orang yang membuka hutan diminta bercerita tentang peristiwa yang mereka alami. Yang dari selatan, barat, tengah dan timur ada peristiwa apa saja yang terjadi.
Semua cerita tadi dikumpulkan untuk dijadikan dasar mendirikan suatu desa. Setelah dianggap cukup warga diperbolehkan kembali ke rumah masing–masing sambil menunggu bagaimana kelanjutannya. Belum waktunya berganti hari, para warga sudah menerima kabar bahwa pada hari anggara kasih, semua diperintah untuk berkumpul kembali membawa makanan (ambeng) sendiri–sendiri yang digunakan untuk selamatan.
Ketika hari anggara kasih telah tiba, semua warga dengan sangat antusias berdatangan untuk menyaksikan akan diberinya nama sebuah desa ini. Setelah semua berkumpul orang – orang bermusyawarah dan diberi keterangan bahwa sesuai hasil musyawarah para pendahulu yaitu membuka lahan ini yang termasuk bagian selatan, barat, timur dan tengah semua jadi satu dinamakan Desa Bendowulung. Setelah didapatkan nama desa, para warga diajak untuk selamatan bersama dan berdoa agar desa ini menjadi berkah untuk semua.
Peristiwa dari adanya pohon bendo yang berwarna ungu yang dimana pohon itu ketika malam digunakan untuk tempat tinggalnya burung, dan digunakan untuk pesanggrahan Mbok Rondho yang tinggi kurus dan berkulit sawo matang ( kuning ). Maka disana akhirnya disebut Rondho Kuning. Sedangkan di bagian selatan diberi nama Dukuh Pangkru dan yang bagian utara diberi nama Dukuh Cepoko. Setelah mendapatkan keterangan bahwa hutan yang sudah mereka buka tersebut dijadikan sebuah desa, para warga merasa sangat lega dan bahagia. Tetapi ada satu hal yang masih mengganjal di hati mereka yaitu siapa yang akan memimpin desa tersebut karena pemimpin itu sangat penting untuk kelanjutan desa di masa yang akan datang.
Akhirnya, setelah diadakan musyawarah bersama maka diputuskan bahwa Pak Bowo Sari Leksono. Orangnya gagah perkasa, tampan, pandai, dan cekatan. Adanya Pak Sari yang menjadi lurah, maka Desa Bendowulung sudah menjadi pemerintahan yang lengkap yaitu ada pemimpin, wilayah, dan warganya.